Rabu, 14 Januari 2015

REFLEKSI SATU TAHUN "2014 SULUT MENANGIS"

Sebelumnya pada Rabu 15 Januari, Sulut mengalami bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di sejumlah kota dan kabupaten. Daerah tersebut antara lain, Kota Manado, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara, Minahasa Tenggara, Kepulauan Sangihe, dan Kepulauan Sitaro. Bencana yang terjadi secara serentak ini membuat aktifitas pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi tidak berjalan selama beberapa minggu.

Bencana yang menimpa Sulawesi Utara kemarin sangat memilukan, bencana yang banyak memakan korban jiwa terutama bencana banjir di Kota Manado yang sempat porak-poranda di terjang bencana banjir bandang kemarin sempat mematikan aktifitas pemerintahan serta ribuan rumah yang rusak di karenakan bencana tersebut.
Semua lini dari poros bawah sampai dengan pusat ikut mengambil peran untuk memberikan bantuan baik tenaga, materil, dan moril menjadi satu untuk membangkitkan semangat masyarakat kota manado agar tidak terpuruk dengan kejadian itu, isak-tangis masyarakat selalu membenak dalam diri kami sebagai relawan pada hari itu.

Kenapa semua ini terjadi...kenapa harus kami!!

Perkataan itu selalu terngiang dalam benak kami para relawan, yang terkadang pula ingin menangis dengan melihat kondisi mereka seperti itu. Terkadang memandang anak-anak di tempat pengungsian sangat sulit melihat senyum riang mereka yang telah hanyut di terpa banjir bahkan ada yang sempat mencari orang tuanya setelah banjir tidak pernah balik dari rumah mereka.

Apakah ini semacam peringatan atau sekedar perbuatan tangan jahil yang membuat Manado sempat lumpuh beberapa minggu, itulah bencana tidak bisa di terka dan kita hanya bisa waspada saja dengan itu.

Para relawan setiap hari bekerja keras untuk bisa memberikan pelayanan dan pendampingan kepada korban banjir yang berada di beberapa wilayah di Manado, baik itu memberikan pelayanan medis dan pendampingan psikolog bagi anak-anak korban banjir. Mereka selalu memberikan yang terbaik kepada para korban yang terkadang beberapa relawanpun juga menjadi keluarganya adalah korban banjir.

Tetaplah semangat suatu saat akan ada hikmah yang paling besar dari sekian banyak yang terjadi kepada kita semua sebagai Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO).

0 komentar:

Posting Komentar

Banner

Banner