Sekretaris PP. Muhammadiyah, DR. Abdul Mu’ti, menyampaikan ceramah pada peringatan Maulid Nabi Tingkat Kenegaraan dengan tema "Membangun Mental Kerja Melalui Spirit Peringatan Maulid Nabi Muhammad" di Istana Negara, Jakarta, Jumat malam (2/1).
Hadir dalam acara tersebut, Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara, Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta ibu, beberapa menteri kabinet, para duta besar negara sahabat dan masyarakat Islam lainnya.
Berikut ceramah dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta selengkapnya.
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Bapak Presiden beserta Ibu Negara Hj. Iriana Joko Widodo
Bapak Wakil Presiden beserta Ibu Hj. Mufidah Jusuf Kalla
Para Pimpinan Lembaga Negara
Para Duta Besar negara-negara sahabat
Para Menteri Kabinet Kerja
Para Alim Ulama, hadirin dan hadirat yang saya muliakan
ALHAMDULILLAH, berkat hidayah, inayah dan taufiq Allah subhanahu wata’ala, Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, malam ini kita bersilaturrahim memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sehat wal afiat. Kita bersyukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa yang dengan rahmat, qudrat dan iradat-Nya menganugerahkan kemerdekaan, kedaulatan, kedamaian dan keamanan bagi bangsa Indonesia. Alhamdulillah, Allah Yang Maha Kaya menjadikan Indonesia negeri dengan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, panorama yang memesona dan keragaman suku yang berbudaya.
Bapak Presiden, hadirin dan hadirat yang saya hormati.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad oleh Pemerintah merupakan tradisi kenegaraan yang penting dan penuh makna. Pertama, peringatan Maulid merupakan akomodasi negara terhadap tradisi dan identitas Islam Indonesia. Kedua, peringatan Maulid membuktikan komitmen Pemerintah dalam membangun kehidupan mental-spiritual sebagai modal rohaniah bangsa Indonesia dalam mencapai cita-cita menjadi bangsa yang berlemajuan, hebat dan bermartabat. Ketiga, peringatan Maulid menunjukkan kecintaan kaum Muslim Indonesia terhadap Nabi Muhammad SAW dan sarana edukatif untuk dapat meneladani keluhuran akhlaknya. K.H. Mas Mansur, seorang Pahlawan Nasional dan Ketua Muhammadiyah, mengatakan walaupun terdapat perbedaan mengenai hukum perayaan Maulid, peringatan Maulid yang dilaksanakan secara khidmad merupakan hal yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan Islam.
Meneladani kehidupan Nabi Muhammad dan para Rasul Allah adalah bagian dari ajaran dan akhlak Islam. Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah surat al-Ahzab (33): 21:
Artinya: Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah, (kedatangan) hari Kiamat, dan yang banyak mengingat Allah.”
Di dalam Alquran, lafadz uswatun hasanah” disebutkan tiga kali; Qs. Al-Ahzab (33): 21, al-Mumtahanah (60): 4 dan 6. Menurut Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasysyaf ayat-ayat tersebut dapat dibaca uswat” atau iswat” . Kata "uswat" mengandung pengertian keutamaan dalam diri Rasulullah atau teladan (qudwah). Dimensi basyariah, insaniah dan nubuwah Muhammad adalah teladan yang dapat menimbulkan keutamaan bagi orang-orang yang mengikutinya. Sedangkan kata iswat berarti mengikuti (iqtida’) atau nama dari sesuatu yang diikuti. Iswat berasal dari akar kata alif-sin-waw yang berarti menyembuhkan, memperbaiki dan mendamaikan. Para Rasulullah adalah teladan yang dengan keluhuran akhlaknya mampu menyembuhkan penyakit sosial, menyelesaikan berbagai masalah, memperbaiki keadaan dan menciptakan tata kehidupan yang damai.
Bapak Presiden, hadirin dan hadirat yang saya hormati.
Nabi Muhammad dilahirkan di Kota Mekah. Di dalam Alquran, Mekah disebut Bakkah, al-Balad, al-Qaryah dan Umm al-Qura. Makkah disebut Bakkah karena secara topografi terletak di lembah gersang. Di kawasan inilah Nabi Ibrahim dan keluarganya memulai kehidupan baru. Walaupun pada awalnya mengalami kesulitan luar biasa, dengan kegigihan bekerja dan pertolongan Allah Nabi Ibrahim berhasil merubah negeri yang miskin sumberdaya alam menjadi makmur, aman dan damai.
Mekah terletak di kawasan yang strategis untuk pengembangan perdagangan. Didukung oleh etos kerja dan tradisi dagang yang kuat, Mekah tumbuh menjadi pusat bisnis yang makmur. Para saudagar Arab adalah pebisnis ulet yang bekerja sepanjang musim ke berbagai negara. Bagi bangsa Arab, berbisnis tidak semata bertujuan untuk memenuhi hajat hidup, dan memperoleh harta-kekayaan, tetapi lebih penting lagi sebagai sarana meraih kekuasaan dan kedudukan sosial. Karena tidak adanya tuntunan agama, etos dan tradisi bisnis melahirkan masyarakat yang kapitalis, materialistis, hedonistis dan feodalistis. Demi meraup keuntungan, mereka menempuh segala cara. Kecurangan, kebohongan, keculasan dan penipuan adalah budaya yang melembaga. Demi melanggengkan kekuasaan, mereka memperbudak, mengeksploitasi dan memperdagangkan manusia. Mereka gemar berfoya-foya, menghamburkan harta, bermegah-megahan di tengah penderitaan kaum papa.
Demikianlah lingkungan alam dan sosial
Senin, 05 Januari 2015
Membangun Mental Kerja Melalui Spiritual
Label:
Artikel
Lokasi: Manado
Manado, Manado, North Sulawesi, Indonesia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Banner

0 komentar:
Posting Komentar